.content{z-index:1;} .ad-left, .ad-left img {left:0px} .ad-right, .ad-right img {right:0px} .ad-left, .ad-right {bottom:0px; min-width:0px; max-width:120px; height:100%; text-align:center; white-space: nowrap; position: absolute; z-index:0; overflow:hidden; margin:0px; padding:0px} .ad-left .widget, .ad-right .widget, .ad-left .widget-content, .ad-right .widget-content { margin:0px;padding:0px;} .ad-left h2, .ad-right h2 {display:none} .ad-left .widget-content, .ad-right .widget-content {line-height:1;} .ad-left img, .ad-right img { top:32px; position:fixed; z-index:-1; opacity:0.7; width:120px; height:600px;} .ad-left a:link, .ad-right a:link { width:120px; height:600px; display:block; position:relative;} .ad-left:hover, .ad-right:hover{z-index:2} .ad-left .widget .widget-item-control img, .ad-right .widget .widget-item-control img {display:none;} Sumber: http://eltelu.blogspot.com/2013/02/cara-menambahkan-widget-baru-di-sebelah.html#ixzz2a2fuUkoz
Sumber: http://eltelu.blogspot.com/2013/02/cara-menambahkan-widget-baru-di-sebelah.html#ixzz2a2gVUD1d

Selasa, 28 Agustus 2012

sukmaku di tanah makassar

SUKMAKU DI TANAH MAKASSAR
(oleh: Asia Ramli Prapanca)

Sukmaku di Tanah Makassar (pelan)
Negeri bayang-bayang (meninggi)
Negeri timur matahari terbit

Gunung-gunung perkasa (biasa)
Lembah-lembah mengangah
Pohon-pohon purba
Kuburan-kuburan tua (turun)

Di dalam kelambu penuh dupa (pelan)
Berhadap-hadaplah dengan dewata (meninggi)
Dengan berlapis – lapis pakaian sutera (biasa)
Musik dan tari saling berlaga (turun)

Sukmaku di Tanah Makassar (penekanan)
Memburu anoa di rimba belantara (satu napas)
Menangkap kupu-kupu di tebing-tebing terjal
Mengejar derai-derai daunan basah
Memanjat pohon-pohon lontar
Di bawah naungannya
Bertempat gelanggang
Sabungan ayam
Di belakang sekian gumam sinrilik
Siap membunuh kekecewaan dengan badik dan badik dan tukul besi

Sukmaku di Tanah Makassar (biasa)
Bersayap angin mammiri bersiul membelai kota (biasa)
Dengan nilai – nilai
Menunggang kuda jantan dengan lari kencang (penekanan)
Membawa impian ke garis kemenangan (penekanan)

Kerikil-kerikil merah bermukim gemerincing (biasa)
Pasir putih membentang panjang berkilauan (biasa)

Sukmaku di Tanah Mangkasara (biasa)
Bersampan vinisi dengan layar daun lontar (tinggi)
Dengan panji-panji sutera warna –warni  (penekanan)
Mengejar debur ombak menjilat lekuk gelombang
Menyelam ke rahang-rahang karang menyunting kerang  (biasa dan penekanan)
Menyelam ke dasar  tasik memetik mutiara

Sukmaku di Tanah Makassar (biasa)
Negeri ayam jantan (penekanan)
Negeri pelaut ulung (penekanan)

Sukmaku di Tanah Makassar (biasa)
Ke mana pun pergi (tinggi)
Di mana pun aku melambai (tinggi)
Gadis-gadis pakarena selalu menyanyi menari di hatiku (dilagukan dan penekanan)

Sinrilik
He………………….eeeeee……………2X
He………………….eeeeee…………..2X

Selamat tinggal Puncak Lompobattang
Selamat tinggal Hulu Je’ne Berang
Selamat tinggal Kampung Galesong
Selamat tinggal pantai Barombong
Selamat tinggal Pulau Kodingareng
Selamat tinggal Kaki Bawakaraeng
Selamat tinggal karaeng

Sukmaku di Tanah Mangkasara’
Mengejar buri mengejar juku’ eja (lancar, penekanan dan dilagukan)
Mengejar debur ombak menjilat lekuk gelombang

Sinrilik
Lakdongang donga la niak te’ne
Mate’ne mamo…
Labela karaeng…..
Tutuki ma’lepa – lepa galle…
Ma’biseang rate bonto…
Tallangki sallang na
Nasakko ki alimbu’bu galle…
e….apami gau’……………

sukmaku di Tanah Mangkasara’
melengking bersama pui’-pui’
merancak bersama parappasa’
menggemuruh bersama pakkanjara’

sinrilik (hee………..eeeeee……………………….4X)
sukmaku di Tanah Mangkasara’
meski Malino tidak berpohon lagi
meski Je’ne ponto tidak berkuda lagi
meski Losari tidak berair lagi
meski Somba Opu tidak berpuing lagi

sukmaku di Tanah Mangkasara’ (biasa)
sukmaku di Tanah Mangkasara’ (tinggi dan dilagukan)
sungguh karaeng! (penekanan dan merendah)
meski kita terpisah beribu gelombang (penekanan dan merendah)









4 komentar:

Qushay Umar Malinta mengatakan...

Assalamualaikum wr.wb
Hai pak Muhammad Dahlan, salam kenal, saya Qushay dari Makassar.
Saya tertarik dengan puisi Sukmaku di Tanah Makassar, terutama bagian Sinrilik Dongang-dongang.

Saya adalah dosen di UNHAS yang sebentar lagi akan melanjutkan pendidikan di luar negeri. Sebelum berangkat, saya ingin mencari tahu sedalam-dalamnya tentang lagu "Dongang-dongang", baik lirik maupun maknanya agar dapat saya presentasikan sebagai salah satu bentuk kebudayaan Sulawesi Selatan yang patut dibanggakan di depan masyarakat internasional.

Sejauh ini saya mencari lirik dan terjemahan yang tepat (asli) dari lagu Dongang-dongang namun belum ada yang memuaskan. Sebagian besar lagu yang beredar di internet merupakan versi modern, dan banyak versi lirik & terjemahan yang saya dapatkan tidak sesuai dengan pengucapan dalam lagunya.

Saya menemukan penggalan lirik lagu Dongang-dongang dalam blog Bapak ini dan saya tertarik untuk menelusuri lebih jauh versi lengkapnya karena menurut saya penggalan lirik di sini adalah salah satu yang paling akurat.

Jika Bapak berkenan berdiskusi dan berbagi tentang lagu Dongang-dongang, mohon menghubungi saya di email qushay20019@gmail.com atau di ponsel 0813 993 993 delapan lima.

Terima kasih atas perhatiannya.

Mukena mengatakan...

Saya selalu merinding jika membaca puisi ini

Muhammad Dahlan mengatakan...

Iya. Salah satu puisi terbaik yang dibuat oleh pak ramli prapanca...

Muhammad Idrus mengatakan...

DoLagu dongang2 dongang...dongang...dongag...dongang dongang..
Karru'na moncong tinggia galle...
Pirauna cappa bulu...
Rera atingna tingkasa batang tanayya dongang2 la apamo gau donganglah dongang donganglah te'nena te'nenalah apamo gau
Tutuki ma'lepa lepa galle mabbiseang rate bonto.. tallagki sallang nana sakkoki limbu'bu dongang dongang la apamo gau.