.content{z-index:1;} .ad-left, .ad-left img {left:0px} .ad-right, .ad-right img {right:0px} .ad-left, .ad-right {bottom:0px; min-width:0px; max-width:120px; height:100%; text-align:center; white-space: nowrap; position: absolute; z-index:0; overflow:hidden; margin:0px; padding:0px} .ad-left .widget, .ad-right .widget, .ad-left .widget-content, .ad-right .widget-content { margin:0px;padding:0px;} .ad-left h2, .ad-right h2 {display:none} .ad-left .widget-content, .ad-right .widget-content {line-height:1;} .ad-left img, .ad-right img { top:32px; position:fixed; z-index:-1; opacity:0.7; width:120px; height:600px;} .ad-left a:link, .ad-right a:link { width:120px; height:600px; display:block; position:relative;} .ad-left:hover, .ad-right:hover{z-index:2} .ad-left .widget .widget-item-control img, .ad-right .widget .widget-item-control img {display:none;} Sumber: http://eltelu.blogspot.com/2013/02/cara-menambahkan-widget-baru-di-sebelah.html#ixzz2a2fuUkoz
Sumber: http://eltelu.blogspot.com/2013/02/cara-menambahkan-widget-baru-di-sebelah.html#ixzz2a2gVUD1d

Kamis, 16 Agustus 2012

Inikah arti merdeka?


Merah putih ku kini berkibar tanpa jiwa
Tak seperti dulu lagi semangatnya
Kini ia hanyalah hiasan dua warna yang diikat
Pada tali di setiap ujung tiang besi
Di tengah lapangan pemerintahan dan sekolah-sekolah
Berkibar tanpa makna lagi
Bukan karena warnanya yang memudar
Tapi jiwa nasionalisme bangsa ini yang tenggelam kapitalisme
Kini ia hanyalah hiasan dua warna yang diikat
pada tali di setiap ujung tiang bambu
dipasang di tiap – tiap gapura depan rumah
di hari pertama bulan jatuhnya bangsa ini
diproklamirkan oleh sang putra matahari
lupakah kita kan masa itu?
Kini ia hanyalah simbol kemenangan di masa lalu
Tegakah kita para pemangku jabatan negeri
Menggadai janji nasionalisme dengan bisikan kapitalisme?
Kita sesungguhnya belumlah merdeka
Sebab kemerdekaan itu hanyalah milik mereka
Yang berjuang dan ikhlas untuk orang lain
Kita adalah pekerja rodi yang di tengah perjalanan
dipaksa berhenti sejenak untuk hormat
pada sang empunya hajatan
kita dipaksa berdiri untuk mengakui
kemerdekaan bangsa ini
namun tak sedikit dari bangsa ini
justru mengkhianati pengakuan suci itu
atas nama bangsa ini ia berjuang
atas nama pribadi ia menuai hasilnya
sekali lagi, kita belum merdeka!
Bisakah kau para pemimpin menganggap negerimu sudah merdeka?
Padahal kau sendiri telah melegalkan generasimu
Untuk dijadikan pesuruh di negeri orang
Dengan upah yang tak seberapa
Namun makan hati luar biasa
Sudikah kau para pemimpin berkata lantang negerimu sudah merdeka?
Padahal tersebar puluhan juta pasang mata,
kuping, tangan, kaki dan alis
yang sungguh tak pantas untuk dikatakan merdeka
sebab masih tak tahu tujuan hidupnya
di mana merdeka itu kau anggap hadir?
Jika anak di ujung negeri ini masih berjalan di hutan belantara
menyusuri sungai melintasi jalan debu dan berlumpur
yang tak pernah berubah dari masa bangsa ini didaulat merdeka
Hanya untuk mengejar mimpi ABCD di sekolah reot
Dengan kapur tulis berdebu menyesakkan
Itukah kemerdekaan buatmu?
Untuk kesekian kalinya
Ku katakan kepadamu, kita belum merdeka!
Kita belum merdeka dari rasa takut
Yang menghantui setiap jiwa yang berbeda keyakinan
Kita belum merdeka dari energi
Sebab gas dan mineral kita masih dirangkul kapitalis
Kita belum merdeka kawan!
Sebab utang luar negeri masih dibebankan pada rakyat
Untuk wajib bayar pajak
Kita sungguh belum merdeka!
Sebab gepeng dan yatim masih berumah di kolong dan terminal
Kita masih belum merdeka
Bahkan kita jauh dari kata merdeka
Kawan…
Kita belum merdeka jika birokrasi pendidikan
Masih senang mempermainkan Dana BOS
Kita sesungguhnya belum merdeka
Sebab kemerdekaan milik pendahulu kita
Yang berjuang dan ikhlas untuk orang lain.

1 komentar:

Muhammad Dahlan mengatakan...

ayo,,,, dikomen....