Senin, 06 Mei 2013

cerita makassar (rupama)" I DAYANG MULLI DAN I LAILARA"

ayo, adik-adik!,,,, siapa yang masih sering didongengkan jika mau tidur?......semoga saja masih banyak di antara adik-adik yang bisa mendengarkan dongeng dari ayah ibunya ya sebelum matanya terpejam,,,,,sebab ternyata seorang anak yang sering mendengarkan dongeng di masa kecilnya maka akan tumbuh menjadi anak yang lebih peka terhadap kondisi sosial di sekelilingnya lho,,,tapi tentunya hal tersebut dipengaruhi oleh jenis dongeng yang sifatnya memiliki nilai-nilai positif. nah berikut ini ada sebuah dongeng dari Provinsi Sulawesi Selatan tepatnya di daerah Pesisir Pantai Barombong Makassar. judul ceritanya adalah " I DAYANG MULLI DAN I LAILARA", ceritanya seru lho.... dan membuat kita merasa terhanyut di dalamnya. cerita ini juga yang mengantarkan teman kita " Sindiana", seorang murid kelas IV SD Negeri Kaccia kota Makassar melaju ke babak grand final STORY TELLING tingkat KOTA MAKASSAR TAHUN 2013 dan masih akan berjuang memperebutkan posisi untuk melaju ke tingkat provinsi dan nasional, doakan ya teman-teman. dan perlu diketahui juga, bahwa teman kita tersebut juga menyabet juara 3 STORY TELLING yang diadakan oleh penerbit bergengsi di Indonesia, ERLANGGA dengan tema " PACK YOUR SPIRIT" tahun 2013.

ini dia ceritanya.........................


I DAYANG MULLI DAN I LAILARA
Dahulu kala, ada sebuah desa di pesisir Barombong, di sana tinggallah sepasang suami istri, namanya daeng naim dan daeng kanang. Keduanya hidup rukun walaupun dalam keadaan yang sangat sederhana. Pekerjaan daeng naim adalah nelayan yang setiap harinya mencari ikan di laut dan istrinya bekerja mengurusi rumah tangga dan bertenun adalah pekerjaan sampingannya.
Mereka dikaruniai dua orang anak, anak pertama, namanya I dayang mulli dan anak keduanya bernama I lailara. Ketika anak keduanya baru lahir, suaminya  yaitu daeng naim baru saja pulang melaut, ia membawa banyak ikan dan kerang, tapi dari sekian banyak ikan dan kerang yang ia bawa, daeng naim paling menyukai talibbo ( sejenis siput laut). Ikan lainnya dijual ke pasar dan talibbo dibawanya pulang ke rumahnya.
Dengan hati yang sangat riang, naim pulang ke rumah. “ assalamu alaikum,”. Salam dari naim ketika sampai di pintu rumahnya. “ wa alaikum salam”, jawab istrinya daeng kanang. Menyambut suaminya yang saat itu sedang asyik menenun.
“Masaklah talibbo ini daeng kanang , aku akan istirahat dulu”.
Talibbo pun dimasak, sementara dg naim masih tertidur pulas.
I dayang Mulli yang sedang mengayunkan adiknya sudah merasa sangat kelaparan, dia tak tahan lagi dan ingin segara menyantap masakan ibunya.
“ ammale( panggilan ibu)......saya mau makan karena sudah sangat lapar,”Kata i dayang muli kepada ibunya.
tunggu bapakmu nak,,,dia masih tidur”, kata ibunya.
I dayang muli tetap memanggil-manggil ibunya karena tak tahan lapar. Karena ibunya merasa ibah dengan anaknya yang sudah seharian tidak makan, maka ibunya pun memanggilnya.
kalo begitu pergilah makan nak, nanti ibu yang jaga adikmu yang tertidur. Tapi sisakanlah sebagian tallibo untuk bapakmu,,,” pesan ibu.
I dayang muli pun segera bergegas menuju balla-balla ( balai-balai) di dapur. Karena terlalu lapar ia pun makan dengan lahapnya dan lupa pesan ibunya unutk menyisakan sebagian dari lauk tersebut.
“ egm,,,, assipakna.....” kata i dayang mulli.
Setelah selesai, ia pun kembali mengayunkan adiknya, dan meminta ibunya menyelesaikan tenunannya. Tak lama kemudian i dayang mulli pun ikut tertidur di samping adiknya.
Tiba-tiba dg naim pun terbangun dari tidurnya dan dia segera menuju kedapur.daeng kanang .....!!!!!, dimana  talibbo yang kamu masak tadi, mengapa hanya cangkangnya yang kamu sisakan,,, ....”( kata daeng naim dengan suara keras dan wajah yang geram setelah melihat bekas makanan anaknya i dayang mulli.)
Sambil kaget, istrinya pun bergegas ke dapur dan heran sambil berkata “ maafkan aku daeng,  anakmu i dayang mulli telah menghabiskannya tadi ketika ia makan, sebab aku membangunkan daeng tapi kamu tidak mau bangun”, ( memelas dan menangis).
tidak memang tong, kamu dan anakmu tak punya rasa kasihan sedikitpun,kamu sudah tahu kalo saya kelaparan tapi tak menyisakan makanan untukku..... sekarang,,, kamu harus pergi kelaut mencari talibbo yang sama besarnya dengan yang tadi, kalau kamu tidak mendapatkannya maka kamu tidak boleh pulang...”( kata daeng naim kepada istrinya dalam keadaan yang marah ).
Tanpa berpikir panjang, istrinya pun membangunkan anaknya dan berkata, “ anakku i dayang mulli, ibu akan pergi menyelam kedasar laut mencari talibbo untuk bapakmu,,, jika adikmu menangis maka panggilah ibu dangan nyanyian.
Ibunya pun berangkat menuju bibir pantai dengan rasa bersedih dan berlinangan air mata,, lalu langsung memnyelam dengan harapan mendapatkan sejumlah talibbo. I dayang mulli pun merasa cemas dengan adiknya, karena terus menangis ingin disusui, sehingga ia membawa adiknya ke pantai sambil memanggil ibunya dengan nyanyian.
“ ammale... ammale.... naik maki mae, cipurukmi andikku cappe-cappemi battanna”. Begitulah i dayang mulli menyanyikan panggilan untuk ibunya. Setiap kali adiknya menangis dan naiklah ibunya, tak satu pun talibbo berhasil ibunya dapatkan sampai pada hari ke tujuh terjadi keanehan, di sekujur tubuhnya nampak bersisik seperti ikan. Sejak saat itulah ibunya tidak lagi bisa ke daratan untuk menyusui anaknya. Ia berubah menjadi duyung.
Pulanglah I dayang mulli dan mengadu pada bapaknya. mendengar cerita dari anaknya, daeng naim pun merasa sangat bersalah, ia segera ke pantai lalu menyelam juga, alhasil ia pun tak kembali ke daratan, hingga akhirnya ia berubah menjadi lumba-lumba.
Kini tinggallah i dayang mulli meratapi nasibnya, ia bingung. Adiknya masih sangat kecil, dan ia pun belum bisa memenuhi kebutuhan hidupnya juga adiknya.
Dan akhirnya I Dayang Mulli dan I Lailara tak lagi merasakan kasih sayang ibu dan bapaknya.


(cerita ini masih berlanjut,,,,makanya kunjungi blog ini yah,,,dan berikan komentarnya,,,,ditunggu. terima kasih.)



Sabtu, 20 April 2013

tak semestinya kau begitu ( puisi cinta, story of love)

Kaccia, 21 Oktober 2008

Tak semestinya kau begitu

Sayang....
Tak semestinya kau begitu..........

Kau kagum...
Kau simpati, atau...
Kau empati padaku?

Tak semestinya kau begitu....
Sebab tak sepatutnya aku dapatkan semua itu

Kagummu padaku
Simpatimu padaku...
Bahkan, empatimu padaku....

Sayang....
Pandanglah dunia dari segala arah
Kau kan temukanku
Sebagai satu arah yang tak berujung tentunya....

Sayang ....
Nikmatilah suguhan minuman di semua bejana
Kau kan dapatkanku
Sebagai arak terkecut yang mengerutkan dahi....

Sayang.....
Titilah waktu yang terbentang di hadapanmu....
Niscaya kau kan dapatkanku
Bagaikan hempasan waktu yang tak punya arti

Yang tersayang....
Genggam dan lepaskanlah rasa itu....
Sebab, aku tak pantas untuk dapatkan  semua itu....

Karena tak semestinya kau begitu.....

“ don’t cry for me, don’t smile for me”
Because I don’t know
“.... why do you want to cry and smile for me...”



Aku tak ingin kau menangis untukku...
Karena ku tahu, aku tak tahu alasannya....

Aku tak ingin kau tersenyum kepadaku....
Karena ku tahu, aku tak tahu untuk apa senyummu itu......


Aku tak ingin kau mengagumiku....
Karena ku tahu, kau tak punya alasan untuk itu...

Kau tak perlu hadirkan semua itu....
Karena ku tahu itu tak abadi buatku....

Sebab ku mau...
Hanyalah sebuah
Kesejatian.....
Keabadian.....
Darimu..... untukku....
Tanpa berbagi  yang lain.....

Sabtu, 29 September 2012

sebuah tanda kabung ( puisi tentang lingkungan)


Kaccia , 21 Oktober 2008

SEBUAH TANDA KABUNG UNTUK ZAMRUD HIJAU KHATULISTIWA

 Khalifah persada negeri ini sepertinya tak pernah tahu
Ia telah merangkai bunga duka untuk sang pertiwi
Kelak ..
Anak cucu negeri ini menjual karangan bunga yang bertuliskan
“turut berduka cita atas perginya sang zamrud hijau khatulistiwa”

Tak hanya sampai di situ.....
Cicit negeri ini pun bakal mendulang emas
Lewat “eksploitasi hijau”
Sambil membawa rangkaian kalung bunga
Bagi para pembabat hutan
Yang tak jelek kalau ku juluki
“pemahat nisan” bagi zamrud hijau khatulistiwa

Mereka “sang hantu hutan” datang dari jiwa materialis
Terbang bersayap putih membalut tubuhnya
Laksana malaikat kecil pembawa kabar gembira

Membisikkan materi ke telinga-telinga matre
Membagikan berkah yang tak lain hanyalah 
Kuncup huldi yang mulai merekah

Hingga akhirnya di setiap sudut negeri ini
Berorasikan “ hidup malaikat eksploitasi hijau!, hidup!”

Lalu khalifah sesat di setiap sudut kota
Mengalungkan rangkaian kembang memajangkan ucapan

“Selamat dan Sukses Atas PT Eksploitasi Hijau Negeri Zamrud Hijau Khatulistiwa”

Terlena ...... terlena hingga akhirnya
Sang ayah mengslungkan bunga duka
Bagi anak cucu yang masih bersemayam di alam kasih sayang

Kasihan.....

Tapi inilah bukti khalifah negeri ini
Mengalungkan bunga duka
Sebagai tanda kabung untuk zamrud hijau khatulistiwa



Rabu, 05 September 2012

temaram senja

Mei 2004
Temaram Senja
( puisi ini kudedikasikan untuk ibuku tercinta yang meninggal di bulan mei 2004, ku tulis sajak ini di hari ia meninggalkan kami sekeluarga untuk selamanya, buat ibu,,, aku belum mampu berbuat banyak dalam kebaikan,,,, tapi aku berjanji akan menjadi manusia yang lebih baik dan berguna dunia akhirat untuk diriku, keluarga dan bangsaku,,,, amin ya robbal alamin )
Suatu temaram senja
Yang mengharubirukan
Menggeliatkan sejuta gelora
Menepikan segala kehangatan

Suatu temaram senja
Yang menyimpan suka dan duka
Merenungkan segala kebatilan jiwa
Mendendangkan suatu tembang pilu

Suatu temaram senja
Yang memekik di tengah kedamaian
Menghempas badai di angkasa

Suatu temaram senja
Yang mengharubirukan
yang menyimpan suka dan duka
yang memekik di tengah kedamaian


suatu temaram senja
suatu elegi umat manusia
suatu rahasia yang maha ghaib
yang terungkap
lewat suatu temaram senja